Sejarah

Untuk menggerakkan lokomotif dan mesin-mesin uap, disinilah disebutnya zaman keemasan batubara (abad 19) yang mengakibatkan meningkatnya penggunaan batubara yang mendorong terjadinya Revolusi Industri di Eropa dan di seluruh dunia. Salah satu dampak Revolusi Industri di Indonesia adalah di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Hal ini telah membawa berbagai dampak, baik bagi pemerintah Hindia Belanda maupun bagi perkembangan ekonomi dan pendidikan di Sawahlunto. Sarana dan prasarana seperti jalan, gedung, jalur kereta api Padang–Sawahlunto mulai dibangun pada tahun 1887 dan selesai pada tahun 1894, serta bangunan peninggalan sejarah di Sawahlunto salah satunya adalah Lubang Tambang Bawah Tanah pertama di Indonesia, letaknya di Sungai Durian dan berada di area Balai Pendidikan Pelatihan Tambang Bawah Tanah Kementerian Enerigi Dan Sumber Daya Manusia (KESDM).

Selain lubang tambang bawah tanah, terdapat juga “Penjara Orang Rantai” yang biasa disebut oleh masyarakat di Sawahlunto. Lokasi ini terkoneksi langsung ke mulut lubang  Lubang Tambang Bawah Tanah

Berikut Sejarah lengkap Balai Diklat Tambang bawah Tanah selengkapnya:

1. Tahun 1858

 Diketemukannya emas hitam atau yang lebih dikenal dengan batubara, pertama kali oleh Ir C De Groot van Embden di pantai timur Sumatera tepatnya di Muara sungai Ombilin Batang Kuantan

2. Tahun 1867

Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Pieter Mijer, menunjuk langsung ahli geologi Willem Hendrik De Greve untuk melakukan penelitian lebih rinci keadaan batubara di Ombilin (Sawahlunto). De Greve memperkirakan terdapat 200 juta ton batubara di beberapa lokasi. Yaitu:

  1. Parambahan
  2. Sigalut
  3. Lembah Sugar
  4. Durian (Waringin)
  5. Sungai Durian
  6. Sawah Rasau
  7. Tanah Hitam

3. Tahun 1872

22 Oktober 1872 Willem Hendrik De Greve meninggal di sungai Kuantan,  dan dikuburkan di pinggir sungai Kuantan Nagari Durian Gadang.

4. Tahun 1876

 Setelah Willem Hendrik De Greve meninggal, dan atas persetujuan pemerintah Belanda, dirintislah pertambangan batubara di daerah Sawahlunto. Penelitian batubara dilanjutkan oleh RDM Verbeck dan YA Hooze untuk melakukan persiapan penggalian batubara di Ombilin, dan  merancang sistem transportasi pengangkutan batubara dari Sawahlunto ke Telul Bayur (Padang)

5. Tahun 1880

Berdirinya lubang tambang bawah tanah batubara pertama di Sawahlunto (Sungai Durian) yang dibuat oleh Belanda. Lubang tambang bawah tanah Sungai Durian sempat ditutup beberapa tahun kemudian dikarenakan tidak adanya transportasi untuk mengangkut batubara dari Sungai Durian ke Sawahlunto. Lubang tambang bawah tanah ini terhubung langsung ke beberapa lubang tambang yang berada di daerah Sawahlunto yakni: 

  • Lubang Durian (Waringin)
  • Lubang Tembok
  • Lubang Sawah Rasau (Karanganyar)

6. Tahun 1891

Seiringan dengan proses pembangunan rel kereta api dari Sawahlunto ke Teluk Bayur (Padang), Belanda membuat kembali Lubang tambang di daerah Durian (Waringin). Pada jaman inilah masa kejayaan batubara, dampak dari peristiwa tersebut, maka dibukalah kembali Lubang tambang Sungai Durian. Transportasi pengangkutan batubara dari lubang tambang Durian menggunakan menggunakan kerbau

7. Tahun 1925

Terbentuknya Penjara Sawahlunto, dikenal dengan “Penjara Orang Rantai”

8. Tahun 1950

Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para karyawan Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status tambang menjadi pertambangan nasional. Pada 1950, Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengesahkan pembentukan Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA) Pada 1981, PN TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, yang selanjutnya disebut Perseroan. Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batu bara di Indonesia, pada 1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Perum Tambang Batubara dengan Perseroan

9. Tahun 1953

Terbentuknya Sekolah Teknik Tambang Menengah (STTM) Ombilin (sekarang Balai Pendidikan Dan Pelatihan Tambang Bawah Tanah). STTM Ombilin diresmikan pembukaannya pada bulan Mei 1953. Pembukaan kembali Pasca PD-II, banyak para pengawas ikut berjuang sehingga TBO(Tambang Batubara Ombilin) kekurangan Pengawas, ditutup tahun 1968

10. Tahun 1987

Kemajuan teknologi pertambangan mendorong dibukanya kembali Sekolah Teknik Tambang Menengah (STTM) yang bearada di bawah pengelolaan PT. Bukit Asam. dan diresmikan sebagai tahun ajaran baru oleh Bapak Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat pada tanggal 19 September 1987

11. Tahun 1992

Pada tanggal 31 Juni 1992, STTM Ombilin berubah status menjadi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Tambang (LPPT) Ombilin. Lembaga ini telah menghasilkan sejumlah lulusan berupa tenaga tekhnik terdidik bidang tambang, mesin tambang, listrik tambang yang cukup handal dan berkualitas. Semua lulusan digunakan oleh PT. BA terutama dalam kegiatan operasi penambangan batubara Ombilin Sawahlunto dan Tanjung Enim, hanya sebagian kecil dari lulusan LPPT Ombilin bekerja di luar PT BA.

12. Tahun 1996

Pada tanggal 20 Agustus 1996, LPPT Ombilin berubah menjadi Ombilin Mines Training College melalui penandatanganan MOU kerja sama pengembangan kurikulum dan metoda diklat antara YPTTPO dengan John Batman Institute of Tafe(JBIOT) Australia. Misi dari kerja sama ini adalah pembentukan suatu lembaga pendidikan dan pelatihan bidang pertambangan bertaraf internasional dan mandiri. JBIOT menempatkan 2 orang tenaga ahli ( principal dan curriculum specialist) guna mendukung pengembangan materi pelatiahn tidak hanya untuk tambang bawah tanah tetapi juga juga perawatan alat-alat berat untuk tambang terbuka.

13. Tahun 2000

Pada tahun 2000 diadakan kerja sama antara pemerintah Indonesia (Departemen Pertambangan dan Energi) dengan pemerintah Jepang (JICA). Kerja sama dengan pemerintah Jepang tersebut didasarkan kepada Records of Discussionantara Dirjen Pertambangan Umum yang ditandatangani pada tanggal 19 Oktober 2000.

14. Tahun 2001

Kerja sama tersebut berupa Program Alih teknologi Tambang Batubara Bawah tanah dalam bentuk: Bantuan Asistensi tenaga ahli ( experts) jangka panjang dan pendek untuk bidang tambang, keselamatan tambang, teknologi mesin tambang, teknologi listrik tambang, dan teknologi lingkungan berkaitan dengan tambang batubara bawah tanah. Bantuan hibah peralatan praktikum dan fasilitas pelatihan yang didatangkan langsung dari Negara Jepang. Durasi kerja sama ini berlangsung selama 5 tahun, terhitung dari tanggal 01 April 2001 sampai dengan 30 Maret 2006. Secara operasional JICA menempatkan tim ahli di Balai Pendidikan dan Pelatihan Tambang Bawah Tanah yang saat itu di bawah pimpinan Mr. Hiroaki TATSUNO sebagai JICA Team Leader, 1 orang coordinator dan 5 tenaga ahli jangka panjang. Mulai tahun 2004 JICA Team dipimpin oleh MR. Katsuhiko SEO didamping oleh 1 orang coordinator dan 3 orang tenaga ahli.

15. Tahun 2003

Ombilin Mines Training College (OMTC) berubah menjadi Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT) dan resmi pindah ke Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM). Berdasarkan keputusan Menteri ESDM Republik Indonesia No. 1724 Tahun 2002, tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT)

16. Tahun 2004

Pendirian BDTBT diresmikan oleh Menteri Purnomo Sugiantoro pada tanggal 14 Mei Tahun 2004

17. Tahun 2013

Berdasarkan Permen ESDM No 10 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Diklat Tambang Bawah Tanah. Balai Pendidikan dan Pelatihan Tambang Bawah Tanah sebagaimana tertulis dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor: 10 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pendidikan dan Pelatihan Tambang Bawah Tanah menyelenggarakan fungsi sebagai berikut:

  1. Penyusunan rencana dan program pendidikan dan pelatihan
  2. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan
  3. Pelaksanaan kerja sama pendidikan dan pelatihan
  4. Pengelolaan sistem informasi pendidikan dan pelatihan
  5. Pelaksanaan evaluasi pendidikan dan pelatihan
  6. Pelaksanaan standar teknis pendidikan dan pelatihan serta pengembangan kurikulum
  7. Pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan dan pelatihan; dan
  8. Pelaksanaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga

 

 Referensi

  1. “Balai Diklat Tambang Bawah Tanah”. Sawahlunto. www.bdtbt.esdm.go.id.
  2. “Badan Pengembangan SDM (BPSDM ESDM)”. Sawahlunto. www.diklat.esdm.go.id.
  3. “Wawancara”. Hasil wawancara dengan saksi hidup, Bapak Timbul Sipahutar” Sawahlunto, Diakses tanggal 27 April 2018
  4. Penjara Orang Rantai” Yuristia Mega, SS. Diakses tanggal 04 April 2018
  5. “Perubahan status tambang menjadi pertambangan nasional”. PT. Bukit Asam (PT. BA) www.ptba.co.id.
  6. “Perubahan status tambang menjadi pertambangan nasional”. Sawahlunto. https://id.wikipedia.org/wiki/Bukit_Asam
  7. “Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Lampiran Siaran Pers Nomor: 0020.Pers/04/SJI/2018 No. Urut 29, Tanggal: 15 Februari 2018”. Sawahlunto. www.esdm.go.id.
  8. “Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia, Lampiran Siaran Pers Nomor: 0020.Pers/04/SJI/2018 No. Urut 32, Tanggal: 15 Februari 2018”. Sawahlunto. www.esdm.go.id.